Awas Narkoba di kalangan Pelajar

Thursday, 24 March 2011

Hasil survei Badan Narkotika Nasional menunjukkan, prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7 persen dari jumlah pelajar dan mahasiswa atau sekitar 921.695 orang. "Dari jumlah tersebut, 61 persen di antaranya menggunakan narkoba jenis 'analgesic' dan 39 persen jenis ganja, 'amphetamine', ekstasi dan lem," ujar Kabid Pembinaan dan Pencegahan Badan Narkotika Propinsi Sumatera Utara, Arifin Sianipar, di Medan Minggu (13/2). Ia mengatakan, jumlah pecandu narkoba yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi di seluruh Indonesia, berdasarkan data Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) tahun 2010 sebanyak 17.734 orang.
 NGELEM - Seorang anak jalanan menghirup lem serbaguna di tepi jalan juanda Baru, Medan, Minggu (13/2). Aktivitas yang biasa disebut "ngelem" ini dapat mengakibatkan kerusakan syaraf permanen. dari aspek regenerasi, kegiatan negatif ini dapat merusak generasi muda untuk masa depan.

Jumlah pengguna narkoba terbanyak, kata dia lagi, pada usia 20 hingga 34 tahun. Jenis narkoba yang paling banyak digunakan oleh pecandu yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi adalah jenis heroin sebanyak 10.768 orang, ganja 1.774 orang dan sabu-sabu sebanyak 984 orang. Selebihnya, katanya, umumnya menggunakan alkohol, MDMA, amphetamine lain serta benzodiazepine. 

Menurut Arifin, jumlah tersebut cukup mengkhawatirkan. Karena penyalahgunaan narkoba memberikan pengaruh besar kepada masyarakat, baik dari segi kesehatan maupun perekonomian.  Ditinjau dari segi kesehatan, lanjutnya lagi, penggunaan narkoba akan menyebabkan menurunnya stamina tubuh dan merusak organ-organ vital seperti saraf dan jantung.
 

Sedangkan dari segi perekonomian, katanya, penyalahgunaan narkoba akan menyebabkan penggunanya harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli barang terlarang tersebut. "Memang, narkoba masih menjadi masalah bagi bangsa ini, karena pengguna barang haram tersebut bukan hanya di tingkat orang dewasa, namun telah merasuk ke generasi muda. Ini jelas akan merusak generasi muda selaku penerus bangsa," ujar Arifin kepada Antara.
 

Untuk mencegah maraknya narkoba di kalangan dan mahasiswa butuh pelatihan khusus. Dalam pelatihan ini, pelajar dan mahasiswa diberikan pendidikan metoda pencegahan serta pengarahan tentang bahaya narkoba, termasuk cara melaporkan tindak kejahatan tersebut, jika ditemukan di lingkungan sejolah dan kampus.
 

"Berbekal pengetahuan yang dimiliki selama dalam pelatihan, kemampuan dan semangat kemandirian untuk memberantas narkoba dapat diimplementasikan,* ujarnya.Sebab, menurut dia, meski terdiri dari kalangan terdidik, tetapi sekolah maupun kampus tidak tertutup kemungkinan terlibat dan menjadi korban dalam penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba. Bahkan data yang diperoleh dari Badan Narkotika Nasional (BNN), kata Arifin, terdapat sekitar 5.000 kalangan perguruan tinggi di tanah air yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
 

Jumlah pengguna narkoba terbanyak, pada usia 20 hingga 34 tahun. Jenis narkoba yang paling banyak digunakan oleh pecandu yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi adalah jenis heroin sebanyak 10.768 orang, ganja 1.774 orang dan sabu-sabu sebanyak 984 orang. Kabid Pembinaan dan Pencegahan Badan Narkotika Propinsi Sumatera Utara, Arifin Sianipar.
 

Libatkan Seluruh Warga
 
UNTUK mewujudkan sekolah maupun kampus bebas narkoba, perlu dilakukan pendekatan komprehensif yang terpadu, dengan melibatkan seluruh warga sekolah, guru, pegawai, orang tua siswa dan masyarakat.

"Penyusunan kebijakan yang jelas tentang penyalah gunaan narkoba, penanganan maupun sanksinya perlu dijadikan sebagai pedoman dalam mengambil langkah menangani permasalahannya," kata Kepala Bidang Pembinaan dan Pencegahan Badan Narkotika Provinsi Sumatera Utara, Arifin Sianipar di 
Medan, Minggu (13/2).

Menurut dia, perlu membentuk dan menetapkan suatu tim ataupun kelompok kerja satuan tugas (Satgas) anti narkoba di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. "Satgas itu perlu dilibatkan dalam aksi anti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, karena sekolah ataupun kampus telah menjadi sasaran peredaran obat terlarang," kata Arifin.  Dikatakannya, metode perekrutan pelajar dan mahasiswa menjadi kader anti narkoba, merupakan salah satu cara membentengi sekolah ataupun kampus tersebut dari merebaknya peredaran barang haram  tersebut.
 

Untuk itu, perlu diselenggarakan pendidikan pencegahan secara kurikuler berintegrasi pencegahan dalam bidang pendidikan jasmani kesehatan meliputi aspek penyalahgunaan dan ketrampilan sosial untuk menolak narkoba.
READ MORE - Awas Narkoba di kalangan Pelajar

Gambar Hasil pencarian Narkoba


READ MORE - Gambar Hasil pencarian Narkoba

 
 
 
 
SOFTWARE DOWNLOAD DAN TUTORIAL | MUSIKNYA INDONESIA | INDONESIA MUSIK EVENT | THE CANDIES SKA JAKARTA | BLACKBERRY INDONESIA